
Mataram, 23 Juni 2026– Sebanyak 150 mahasiswa Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Bastrindo) FKIP Universitas Mataram menggelar pagelaran “Karya Inspiratif” di Arena Budaya Unram pada Selasa (23/6). Pagelaran yang berlangsung dari pagi hingga sore hari ini menjadi ajang unjuk kreativitas mahasiswa dalam bentuk wayang kontemporer, teatrikal puisi, hingga pameran karya jurnalistik.
Kegiatan dibuka dengan pembukaan resmi yang dirangkaikan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa. Sebanyak dua belas kelompok pementasan tampil secara bergiliran di Arena Budaya, dengan enam kelompok wayang kontemporer dan enam kelompok teatrikal puisi yang dibagi dalam sesi pagi dan sore.
Enam kelompok wayang kontemporer menampilkan adaptasi karya sastra dan cerita rakyat, yakni Iblis Tanah Suci, Inaq Tegining Amaq Teganang, Lala Buntar, Cupak Gerantang, Cinta di Balik Pisuke, serta Tegodek-godek, Tetuntel-Tuntel. Sementara itu, kelompok teatrikal puisi menghidupkan karya-karya seperti Bunga Gugur, Rekahan Rindu, Nyanyian Angsa, Yang Fana, Sajak Sebatang Lisong, dan Hujan Bulan Mei. Di sisi lain, mahasiswa jurnalistik memamerkan 24 majalah hasil produksi mereka yang telah melalui proses review dosen dan mahasiswa.
Dosen pengampu Mata Kuliah Praktik Sastra Pertunjukan dan Pengantar Dasar Pertunjukan, Rinda Windya Ikomah, menjelaskan bahwa pagelaran ini merupakan luaran dari pembelajaran berbasis proyek. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi menghasilkan karya nyata yang dapat dipertontonkan kepada publik,” ujarnya. Menurutnya, proyek wayang kontemporer lahir dari proses adaptasi karya sastra ke dalam bentuk pertunjukan, di mana mahasiswa mengolah naskah, menyusun konsep, hingga memproduksi pertunjukan secara mandiri.
Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian adalah adaptasi cerita rakyat Inaq Tegining Amaq Teganang yang dibawakan oleh delapan mahasiswa. Wiwit, perwakilan kelompok, mengatakan bahwa pemilihan cerita tersebut didasari kedekatannya dengan kehidupan masyarakat Lombok. “Cerita rakyat sangat populer di Suku Sasak, apalagi ada lagunya. Makanya kami adaptasikan ke pertunjukan wayang,” ujar mahasiswa semester enam itu. Selama tiga bulan, kelompok tersebut mengembangkan naskah, merancang karakter, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu proses visualisasi tokoh dan properti.
Dosen pengampu Mata Kuliah Praktik Sastra Pertunjukan, A.A. Ngurah Bagus Janitra Dewanta, menegaskan bahwa pagelaran ini menjadi sarana untuk mempertemukan tradisi dengan semangat zaman. “Kami ingin membangkitkan kembali seni atau sastra lama seperti pewayangan, bukan pewayangan yang terkesan jadul, tetapi kami bungkus dalam bentuk kontemporer yang menyesuaikan perkembangan zaman,” jelasnya.

Di samping pagelaran karya inspiratif, dosen pengampu Mata Kuliah Praktik Sastra Pertunjukan juga berkolaborasi dengan dosen Mata Kuliah Jurnalistik untuk memeriahkan kegiatan ini. “Majalah jurnalistik yang dipamerkan hari ini merupakan proyek akhir mata kuliah yang mengangkat isu-isu pendidikan, kebudayan, dan pariwisata di pulau Lombok dan telah dipersiapkan matang oleh mahsiswa sejak awal perkuliahan (Februari, red),” terang Marlinda Ramdhani yang merupakan dosen mata kuliah Jurnalistik.
(Dok. Ceraken)
Pagelaran “Karya Inspiratif” ini menjadi bukti bahwa mahasiswa PBSI Unram tidak hanya memahami karya sastra, tetapi juga mampu menghadirkannya kembali dalam bentuk yang relevan dengan zamannya. (Lnd)

