Pertemuan keempat kelas internasional EURASIA Foundation x FKIP Unram kembali diselenggarakan di Aula A FKIP pada Rabu, 1 Maret 2026. Pada sesi ini, kegiatan menghadirkan narasumber Prof. Elly Malihah dengan topik Peran Perempuan dan Pemuda dalam Penegakan HAM dan Perdamaian .
Dalam pemaparannya, Prof. Elly Malihah menegaskan bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan konsep fundamental dalam etika politik modern yang menempatkan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai prinsip utama. HAM melekat sejak manusia dilahirkan, bahkan sejak dalam kandungan, sehingga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri .
Ia juga menjelaskan bahwa HAM dapat dibedakan menjadi hak individu dan hak kolektif atau sosial, seperti hak atas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Dalam konteks Indonesia, implementasi HAM tercermin dalam berbagai program pemerintah yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat .
Fokus utama pembahasan terletak pada peran strategis perempuan dan pemuda dalam mendorong penegakan HAM serta pembangunan perdamaian. Pemuda dinilai memiliki keunggulan dalam hal energi, kreativitas, serta penguasaan teknologi, sehingga mampu menjadi agen perubahan melalui berbagai platform, termasuk aktivisme digital dan partisipasi dalam organisasi sosial maupun politik .


Sementara itu, perempuan memiliki posisi yang unik sebagai subjek sekaligus objek dalam isu HAM. Keterlibatan perempuan dalam proses perdamaian terbukti secara empiris mampu meningkatkan keberlanjutan kesepakatan damai. Selain itu, perempuan berperan penting dalam memperjuangkan hak-hak dasar, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, serta perlindungan kelompok rentan seperti anak-anak .
Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan dalam optimalisasi peran perempuan dan pemuda. Di antaranya adalah keterbatasan akses terhadap posisi pengambilan keputusan, partisipasi yang masih bersifat simbolik, hingga hambatan ekonomi seperti pengangguran dan ketidaksesuaian keterampilan. Selain itu, suara kritis pemuda kerap dipersepsikan negatif, sehingga ruang partisipasi menjadi terbatas .
Prof. Elly juga menyoroti pentingnya kerangka global dalam mendukung peran perempuan dan pemuda, seperti Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325 tentang Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan, serta Resolusi 2250 tentang Pemuda, Perdamaian, dan Keamanan. Kedua regulasi ini menjadi landasan penting dalam mendorong keterlibatan aktif kelompok tersebut dalam proses perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan .
Sesi diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari mahasiswa, mulai dari strategi perempuan dalam melawan subordinasi, posisi Indonesia dalam isu HAM global, hingga tantangan pembuktian kasus-kasus pelanggaran HAM dalam konteks hukum nasional.
Sebagai penutup, Prof. Elly Malihah menekankan bahwa perdamaian yang berkelanjutan tidak dapat dicapai tanpa melibatkan perempuan dan pemuda secara nyata. Keduanya merupakan aktor kunci yang tidak hanya berperan sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak utama dalam mewujudkan masyarakat yang adil, inklusif, dan damai.

