Mataram – Pertemuan ke-12 kelas Program Eurasia Foundation tahun 2026 kembali dilaksanakan di Aula A FKIP Universitas Mataram dengan menghadirkan Prof. Chung Joon Kon sebagai narasumber utama. Pada kesempatan tersebut, beliau membawakan tema Why a New Community Now? Its Necessity and Meaning yang membahas pentingnya membangun komunitas baru di tengah tantangan global dan meningkatnya individualisme masyarakat modern .

Dalam pemaparannya, Prof. Chung menjelaskan bahwa komunitas pada dasarnya merupakan kumpulan individu yang dipersatukan oleh ruang, waktu, tujuan, serta nilai tertentu. Komunitas dapat berbentuk keluarga, sekolah, bangsa, hingga komunitas manusia secara global. Namun, menurutnya, masyarakat saat ini semakin terjebak dalam pola pikir individualistik yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan hubungan sosial dan kebersamaan .

Ia menyoroti bahwa berbagai konflik sosial, politik, hingga konflik antarnegara berakar dari melemahnya rasa keterhubungan antarmanusia. Dalam kehidupan modern, manusia cenderung mendefinisikan diri melalui identitas tertentu, seperti negara, agama, atau kelompok sosial, yang pada akhirnya dapat menjadi pemisah antarsesama. Padahal, manusia sejatinya saling terhubung sebagai satu komunitas besar .

Prof. Chung juga mengangkat pengalaman global selama pandemi COVID-19 sebagai bukti nyata bahwa seluruh manusia di dunia saling terhubung dan saling memengaruhi. Menurutnya, pandemi memberikan pelajaran penting bahwa batas negara, ras, dan budaya tidak mampu memisahkan keterkaitan antarmanusia. Oleh karena itu, diperlukan paradigma baru yang menempatkan empati dan konektivitas sebagai fondasi utama dalam membangun komunitas masa depan .

Empati dan Konektivitas
Empati dan Konektivitas

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa di era digital saat ini, empati menjadi modal sosial yang sangat penting. Dukungan dan kepercayaan publik memiliki pengaruh besar dalam bidang politik, budaya, maupun ekonomi. Namun di sisi lain, empati juga dapat disalahgunakan demi kepentingan tertentu melalui manipulasi informasi dan media digital. Fenomena ini diperparah dengan derasnya arus informasi di internet yang sering kali justru memicu konflik dan mempersempit cara pandang masyarakat .

Dalam refleksinya, Prof. Chung memperkenalkan istilah brain rot atau “otak yang membusuk”, yaitu kondisi ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi informasi negatif dan tidak sehat dari internet hingga memengaruhi kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya literasi informasi dan kemampuan melihat suatu persoalan dari berbagai perspektif agar tidak mudah terjebak dalam konflik dan disinformasi .

Selain itu, mahasiswa juga diajak memahami bahwa pembentukan komunitas baru tidak terlepas dari berbagai tantangan, baik eksternal seperti sistem, aturan, dan budaya, maupun tantangan internal berupa ego, prasangka, dan pola pikir sempit. Untuk melewati hambatan tersebut, diperlukan keterbukaan berpikir, analisis yang mendalam, serta kemampuan memahami perspektif yang lebih luas.

Sesi diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan mahasiswa mengenai ketahanan keluarga, hubungan antarkomunitas, hingga cara membangun empati dalam kehidupan sosial. Dalam jawabannya, Prof. Chung menekankan bahwa keluarga merupakan komunitas paling mendasar dalam membentuk nilai dan karakter manusia. Menurutnya, hubungan yang sehat hanya dapat dibangun ketika manusia tidak semata-mata berorientasi pada kepemilikan dan kekayaan, tetapi juga menjaga hubungan emosional dan nilai kemanusiaan.

Menutup sesi kuliah, Prof. Chung Joon Kon mengajak mahasiswa untuk membangun perspektif global dalam memahami dunia. Ia menegaskan bahwa konflik sering terjadi karena manusia hanya melihat sesuatu dari satu sudut pandang. Dengan membuka diri terhadap berbagai perspektif dan memperkuat empati, komunitas baru yang lebih damai, inklusif, dan saling terhubung dapat diwujudkan.

Bagikan berita ini!