
Mataram, 11 Juni 2026—Bentuk aktualisasi nyata dari Mata Kuliah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia, mahasiswa Semester VI Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram selenggarakan Lokakarya Kebahasaan. Bertema “Aktualisasi Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia,” kegiatan ini menggandeng Balai Bahasa Provinsi NTB pada Kamis (11/6/2026) di Aula Gedung D FKIP Unram.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WITA ini bukan sekadar tugas akhir perkuliahan biasa, melainkan puncak dari rangkaian implementasi kurikulum yang dirancang untuk membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas. “Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa terlebih dahulu diwajibkan turun langsung melakukan sosialisasi kebahasaan di sejumlah sekolah jenjang SD/MI dan SMP sederajat di wilayah Kota dan Kabupaten Mataram. Dari pengalaman lapangan itulah, mahasiswa menjalin kerja sama erat dengan Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat yang kemudian berbuah pada terselenggaranya lokakarya ini, terang Dosen Pengampu Mata Kuliah, Dr. Irma Setiawan, M.Pd..

Lokakarya ini menghadirkan empat narasumber kompeten dari Balai Bahasa Provinsi NTB, yakni Toni Syamsul Hidayat, M.Pd. (Ketua Tim Kerja Pembinaan dan Bahasa Hukum), Kasman, M.Hum. (Ketua Tim Kerja Pengembangan Bahasa), Rondiyah, M.Pd. (Tim Kerja Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia/UKBI), serta Baiq Jihan, M.Pd. (Tim Kerja Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing/BIPA). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Dr. Arie Andransyah Isa, S.S., M.Hum., Koordinator Program Studi S-1 PBSI FKIP Unram Dr. Saharudin, S.S., M.A., serta segenap dosen di lingkungan PBSI.
Dalam pemaparannya, para narasumber menyampaikan materi yang menjadi isu aktual kebahasaan, seperti bahasa media sosial yang berdampak hukum, struktur dan penggunaan kalimat tunggal dalam bahasa Indonesia, serta sosialisasi UKBI Adaptif sebagai instrumen pengukuran kemahiran berbahasa Indonesia. Materi-materi ini dipilih sebagai jawaban atas kompleksitas persoalan bahasa yang ditemukan mahasiswa selama masa sosialisasi di sekolah-sekolah sebelumnya.
Menanggapi pelaksanaan kegiatan tersebut, Dosen Pengampu Mata Kuliah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. Irma Setiawan, S.Pd., M.Pd., juga menegaskan bahwa lokakarya ini merupakan wujud capaian pembelajaran yang berdampak (impactful learning). Ia menyampaikan bahwa aktualisasi mata kuliah ini menjadi jembatan penting bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori kebahasaan di ruang kelas dengan realitas sosial dan hukum yang berkembang di masyarakat.
“Saya mewajibkan mahasiswa turun ke lapangan karena mereka harus merasakan langsung kompleksitas permasalahan bahasa di sekolah-sekolah sebelum berdiskusi dengan para ahli di lokakarya ini. Kolaborasi dengan Balai Bahasa NTB sangat krusial sebagai bentuk aktualisasi mata kuliah, karena mahasiswa tidak hanya mendalami struktur kalimat, tetapi juga memahami konsekuensi hukum dari penggunaan bahasa di media sosial serta pentingnya standardisasi kemahiran berbahasa melalui UKBI. Ini adalah wujud nyata bahwa mata kuliah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka dan berdampak terhadap kebijakan kebahasaan nasional,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, ketua panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan ini membuktikan bagaimana sebuah mata kuliah dapat diaktualisasikan menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa. “Kolaborasi dengan Balai Bahasa NTB memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kebijakan kebahasaan diterapkan di tengah masyarakat. Ini adalah bukti bahwa ilmu dari mata kuliah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa benar-benar hidup dan bermanfaat,” ungkapnya.
Melalui aktualisasi mata kuliah ini, PBSI FKIP Universitas Mataram menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya untuk memecahkan persoalan kebahasaan di tingkat lokal maupun nasional. Lokakarya ini diharapkan menjadi model bagi mata kuliah lain untuk menciptakan pengalaman belajar yang kontekstual dan berdampak luas bagi masyarakat. (Lnd)

