Mataram – Pertemuan ke-9 kelas Program Eurasia Foundation tahun 2026 yang diselenggarakan di Gedung A FKIP Universitas Mataram menghadirkan presiden EURASIA, Prof. Yoji Sato, Ph.D., dengan tema What is Human Being? . Kegiatan ini menjadi ruang reflektif bagi mahasiswa untuk mendiskusikan hakikat manusia, ego, kehidupan, hingga perdamaian dunia dari perspektif filosofis dan kemanusiaan.

Dalam pengantar kuliahnya, Prof. Yoji Sato menjelaskan bahwa Eurasia Foundation hadir sebagai platform pertukaran ide lintas budaya dan negara dengan mengedepankan prinsip non-diskriminasi, netralitas agama, dan netralitas politik. Selama 15 tahun berjalan, program ini telah melibatkan puluhan negara dan berbagai perguruan tinggi sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian global .

Pembahasan utama diawali dengan konsep absolute truth atau kebenaran mutlak yang menurutnya bersifat universal dan tidak dapat disangkal. Ia menyebut terdapat empat tema utama dalam eksplorasi kebenaran mutlak, yaitu ego, manusia, kehidupan, dan substansi utama. Pemahaman terhadap empat aspek tersebut dinilai sebagai langkah untuk mendekati perdamaian dunia .

Prof. Yoji kemudian mengajak peserta merefleksikan keberadaan ego dalam diri manusia. Ia menjelaskan bahwa ego tidak dapat dilihat secara fisik, tetapi keberadaannya nyata dan terbentuk melalui proses sosial sejak manusia lahir. Menurutnya, identitas manusia mulai terbentuk melalui bahasa, angka, nama, pendidikan, dan lingkungan sosial yang diterima sejak masa kanak-kanak .

Prof. Yoji Sato

Lebih lanjut, ia menyampaikan pandangannya mengenai hakikat manusia dan kehidupan. Dalam perspektif yang dijelaskan, manusia dipahami tidak hanya sebagai makhluk biologis, tetapi juga sebagai kumpulan energi dan kesadaran yang terus berkembang. Konflik yang terjadi di dunia saat ini dipandang sebagai bagian dari perkembangan manusia yang masih berada pada “dimensi ego”, sedangkan perdamaian diyakini dapat tercapai ketika manusia mampu melampaui ego tersebut .

Pembahasan juga menyinggung konsep kehidupan dalam perspektif energi dan sains. Prof. Yoji menjelaskan bahwa seluruh benda di dunia tersusun atas partikel dan energi yang saling terhubung. Ia mengaitkan perkembangan manusia di masa depan dengan kemajuan teknologi kuantum yang diyakini mampu membawa perubahan besar terhadap kehidupan global, termasuk mengurangi konflik, kemiskinan, dan peperangan .

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa terkait teori perkembangan manusia, perbedaan karakter individu sejak lahir, hingga pengendalian ego dalam kehidupan sosial. Dalam jawabannya, Prof. Yoji menekankan pentingnya menghargai keberagaman pandangan, keyakinan, dan budaya sebagai fondasi terciptanya toleransi dan perdamaian.

Menutup sesi kuliah, Prof. Yoji Sato mengingatkan bahwa meskipun manusia memiliki latar belakang, keyakinan, dan pemikiran yang berbeda, pada dasarnya semua manusia menginginkan kebahagiaan dan kedamaian yang sama. Oleh karena itu, pemahaman terhadap diri sendiri dan kemampuan mengendalikan ego menjadi langkah penting dalam membangun harmoni di tengah kehidupan global.

Bagikan berita ini!