Program Studi Pendidikan Sosiologi sukses menyelenggarakan kegiatan kuliah umum pada Rabu, 9 April 2026, bertempat di Aula Gedung Dome Universitas Mataram. Mengusung tema “Kampus Berdampak dan Transformasi Pendidikan Sosiologi Abad 21”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi akademik sekaligus penguatan peran strategis pendidikan sosiologi dalam menjawab tantangan zaman.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber kompeten dari berbagai perguruan tinggi, yaitu Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si. (Universitas Pendidikan Indonesia), Prof. Dr. Yohanes Bahari, M.Si. (Universitas Tanjungpura), dan Dr. Deni Sutisna, M.Pd. (Universitas Mataram). Ketiganya memberikan perspektif komprehensif terkait penguatan kapasitas lulusan, transformasi pendidikan, hingga tantangan moral di era digital.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Elly Malihah menekankan pentingnya membangun profil lulusan pendidikan sosiologi yang unggul dan berdampak. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu memperkuat fondasi keilmuan melalui riset, meningkatkan kompetensi pedagogik, serta mengembangkan soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kolaborasi. Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk memperluas orientasi karier di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Prof. Dr. Yohanes Bahari mengangkat konsep kampus berdampak sebagai paradigma baru pendidikan tinggi. Menurutnya, perguruan tinggi tidak lagi cukup berfokus pada kegiatan akademik semata, tetapi harus menjadi agen perubahan sosial yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Transformasi pendidikan sosiologi juga menuntut integrasi teknologi, pembelajaran berbasis masalah, serta penguatan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif.
Pada sesi berikutnya, Dr. Deni Sutisna menyoroti fenomena dominasi digital dan krisis moral di era modern. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, penguatan adab dan etika menjadi fondasi penting dalam pendidikan sosiologi, terutama dalam menghadapi tantangan literasi digital dan perilaku bermedia sosial
Diskusi interaktif antara mahasiswa dan narasumber turut memperkaya jalannya kegiatan. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari adaptasi kurikulum, kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja, hingga tantangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik.
Sebagai penutup, moderator menyimpulkan bahwa ilmu sosiologi tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Mahasiswa pendidikan sosiologi diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang adaptif, kritis, dan beretika dalam menghadapi dinamika masyarakat di era digital.
Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Program Studi Pendidikan Sosiologi dalam menghadirkan ruang pembelajaran yang relevan, inovatif, dan berdampak bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.

Berita lainnya